menganalisis kepemimpinan dan Inovasi lembaga pendidikan (pengalaman pondok Gontor VII putra Sulawesi tenggara)
Nama :Nursafitra
Nim: 19010103069
Prodi: manajemen pendidikan Islam
Kelas : B
MENGANALISIS KEPEMIMPINAN DAN INOVASI LEMBAGA PENDIDIKAN (PENGALAMAN PONDOK GONTOR VII PUTRA SULAWESI TENGGARA)
Pendahuluan
kepemimpinan umumnya selalu dihadapkan pada dua isu penting, pertama: mengapa dalam sebuah organisasi (atau jenis perkumpulan apapun) sebagian menjadi pemimpin sedangkan yang lain menjadi pengikut; kedua, mengapa sebagian pemimpin berhasil sedangkan yang lain tidak atau gagal. Isu pertama menghantarkan kita pada pengenalan kualitas karakteristik seseorang yang menonjol dibandingkan dari orang lain. Di masa lalu tatkala manusia masih hidup dalam suku-suku ataupun klan, karakteristik maupun kualitas ini disebut sebagai primus inter pares
(pertama dan terbaik).
Inovasi (innovation) merupakan suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invention maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. inovasi
selalu berupa penemuan yang dimanfaatkan dalam pendidikan untuk memecahkan atau membuat sesuatu lebih efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan pendidikan.pesantren merupakan lembaga berbasis masyarakat yang tidak mendapatkan sokongan pemerintah, terutama dalam pembiayaan. Sehingga pesantren harus mengerahkan segala potensi yang ada untuk dapat survive dalam kompetisi antar lembaga pendidikan. keunggulan yang
dimiliki oleh pondok modern Gontor, tidak saja pada pusatnya di Jawa Timur, tetapi juga pada wilayah-wilayah ekspansinya, salah satunya di
Sulawesi Tenggara. Beberapa keunggulan seperti: kemampuan dua bahasa (bilingual), kewirausahaan (entrepreneurship), kemandirian keuangan (Chizanah), jaringan antar lembaga (nerworking), merupakan daya tarik bagi masyarakat Sulawesi Tenggara dan sekitarnya untuk menitipkan anakanak mereka pada lembaga tersebut.
A. SIGNIFIKANSI KAJIAN
Pendidikan pesantren pun menghadapi kritik tentang kemampuannya dalam menjawab persoalan aktual di luar domain keagamaan yang menjadi konsentrasinya. Karena tuntutan bagi santri setelah keluar dari pesantren lebih besar lagi di masyarakat luas. Pada pesantren-pesantren dengan tradisi khalaf telah
melakukan langkah-langkah adaptasi terhadap perubahan lingkungan tersebut.Pondok Gontor VII kendari (yang merupakan cabang dari Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur) merupakan salah satu Pondok Pesantren yang mampu melakukan akselerasi di tengah pesimisme atas lembaga pendidikan Islam, baik itu pesantren, madrasah maupun sekolah
Islam. Pondok Gontor VII mampu menjadi magnet dalam pendidikan diSulawesi Tenggara dan provinsi sekitarnya. keunggulan yang menjadi daya tarik besar masyarakat Sulawesi Tenggara dan sekitarnya untuk memasukkan anak ke Pondok Gontor VII, seperti: Pertama, kemampuan dua bahasa (bilingual). Kedua, kewirausahaan (entrepreneurship), dimana para santri dilatih untuk terampil dalam bidang kewirausahaan seperti: peternakan, pertukangan, koperasi, pertanian, menjahit. Ketiga, kemandirian keuangan (Chizanah), yakni penyelenggaraan pondok yang tidak bergantung pada bantuan dari luar maupun kucuran dana dari pimpinan pusat. Keempat, jaringan antar lembaga (nerworking), dimana pondok Gontor VII memiliki jaringan antar lembaga pendidikan, maupun instansi pemerintah, di dalam maupun luar negeri.
B. BEBERAPA TEMUAN TERDAHULU TENTANG PESANTREN
Dinamika kesejarahan yang panjang telah menarik perhatian para peminat kajian pendidikan maupun manajemen lembaga untuk melakukan kajian dari berbagai aspek tentang pesantren. Kajian lebih dikembangkan lagi pada aspek kepemimpinan dengan menyoal
kepemimpinan individual kiai, kepemimpinan
kolektif yayasan, demokratisasi pesantren dan pengembangan orientasi pesantren. Selanjutnya transformasi system pendidikan pesantren dengan mencoba memberikan
tawaran atas system pendidikan independen, membaca tantangan-tantangan multidimensional, system pendidikan yang adaptif serta refleksi tentang pengaruh system pendidikan pesantren terhadap sekolah elit.. Gagasangagasan yang muncul merupakan renungan atas esensi ajaran Islam dan
persinggungannya dengan dunia kontemporer, serta resonansinya atas konteks ke indonesiaan. Dalam konteks itulah pesantren diharapkan melakukan pergulatan internal dalam rangka memberikan energy positif bahkan turun tangan atas masalah-masalah kekinian. Wahid Khozin melakukan telaah tentang Pemberdayaan Ekonomi Pesantren: Studi Kasus Pesantren Nurul Mursyidah Pandeglang6. Khozin menyimpulkan bahwa pembangan ekonomi di Pesantren Nurul Mursyidah merupakan kegiatan berkesinambungan dan upaya membangun jiwa kewirausahaan. Salah satu kegiatan kewirausahaan yang meraih kesuksesan adalah budi daya lele. Husen Hasan Basri dkk, melakukan kajian tentang Pengajaran Kitab
Kuning di Pondok Pesantren7. Kajian ini merupakan hasil survey pada 15 propinsi di Indonesia, yakni: Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, DIY, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Di 15 propinsi tersebut terdapat 23.065 pesantren atau 95,3 % dari 24.206 pesantren di Indonesia.
C. KEPEMIMPINAN DALAM INOVASI LEMBAGA PENDIDIKAN
Lembaga pendidikan merupakan sarana utama dalam proses pendidikan dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan pendidikan secara
nasional. Oleh karena itu, seluruh komponen dalam sebuah lembaga pendidikan harus dapat disinergikan dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan pendidikan, baik nasional maupun institusional. Proses membangun sinergitas dari komponen-komponen tersebut menjadi salah satu tugas penting yang mesti dilakukan oleh pimpinan puncak (top management) lembaga pendidikan. Kepemimpinan (leadership) merupakan proses memengaruhi dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka
Bahwa Kepemimpinan adalah proses dalam mengarahkan dan mempengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus dilakukan. Definisi ini menekankan pada fungsi pengarahan dan pengaruh seorang pemimpin terhadap pengikutnya. Anggota organisasi yang diarahkan dan dipengaruhi tidak begitu saja akan mengikuti kemauan seorang pemimpin.Target dari usaha-usaha sinergi potensi yang dilakukan pemimipin
adalah pertumbuhan (growth). Kate dan Galbraith, menyatakan “both types of organic growth depend on innovation. We define innovation in this context to be the process of turning ideas into commercially viable product
and services13 Bahwa pertumbuhan sangat tergantung pada inovasi. Inovasi didefinisikan dalam sebagai proses mengubah ide menjadi produk dan layanan komersial. Kates dan Galbraith juga menyarankan penggunaan
desain model bintang (star model) untuk kesuksesan sebuah strategi inovasi, yang terdiri dari: kapabilitas, struktur, proses, ganjaran (reward), dan orang (people). Karena inovasi merupakan strategi organisasi untuk meraih keunggulan, maka pimpinan puncak organisasi pendidikan memegang peran
penting dalam menciptakan ruang yang lapang bagi inovasi.
D. SEKILAS PERKEMBANGAN PONDOK MODERN GONTOR VII
PUTRA SULAWESI TENGGARA
Inisiatif pertama adalah berupaya memindahkan salah satu pesantren yang berada di dalam Kota Kendari ke Bekas lokasi Bumi Perkemahan di Kecamatan Landono. Akan tetapi usaha ini tidak berhasil karena pihak yayasan Ummu Shabri menolak
pindah. Tindak lanjut dari kesepakatan tersebut adalah diutusnya KH. Heru Wahyudi bersama 15 (lima belas) guru/ustadz dari pondok Gontor pusat di Ponorogo untuk memulai pengelolaan pondok Riyadatul Mujahidin. Dengan ketekunan, kesabaran, dan keuletan serta kekompakan maka hutan
Puudahoa dapat didiami oleh generasi pertama pondok Gontor VII Kendari. Walaupun statusnya sebagai cabang, tetapi pengelolaan dilakukan oleh generasi awal secara mandiri dengan bekerja sama dengan pemerintah
setempat. Sehingga persoalan keuangan, logistik, maupun pembangunan gedung memang merupakan usaha-usaha mandiri yang dilakukan oleh para generasi perintis.
E. KUALIFIKASI KEPEMIMPINAN PONDOK GONTOR VII
kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka.Kepemimpinan dalam tradisi pesantren berpusat pada Kiay,
demikian juga dengan kepemimpinan pada Pondok Gontor VII Putra Kendari. Walau demikian, figur Kiay tidak kemudian menjadi seorang yang diktator ataupun otoriter. Hal ini disebabkan praktek kepemimpinannya
berada didalam kerangka nilai-nilai dasar dan luhur, yang menjadi pedoman dalam pengelolaan pondok. Dalam konteks ini, penghargaan terhadap eksistensi komponen-komponen di internal pondok mendapat posisi penting dalam praktek kepemimpinan Pondok Gontor VII Kendari. Karena kepemimpinan Pondok Modern Gontor itu harus memenuhi 14 (empat belas) kualifikasi:
1) Ikhlas. Merupakan sikap mental dari pemimpin terhadap setiap dan
peristiwa yang dihadapinya dengan sikap oftimis dan bersandar pada
keyakinan kepada Tuhan, Allah SWT.
2) Selalu mengambil inisiatif. Para pemimpin Gontor adalah orang-orang
yang selalu berdiri di depan baik dalam gagasan maupun tindakan.
3) Mampu membuat jaringan kerja dan memanfaatkannya. Pemimpin Pondok Gontor menyadari bahwa keberadaan maupun kemajuan pondok dipengaruhi oleh aspek luar, baik itu masyarakat, pemerintah, maupun lembaga pendidikan. Sehingga hal itu diwujudkan dalam bentuk pembukaan jaringan kerja di tingkat local, regional, sampai internasional.
4) Dapat dipercaya. Kepercayaan merupakan nilai dasar yang dipegang teguh oleh pimpinan pondok Gontor VII, yang berakar dari keimanan
kepada Tuhan Maha Esa. Kepercayaan ini pula yang dipancarkan oleh pemimpin kepada lembaga yang dipimpinnya sehingga masyarakat menitipkan anak-anaknya untuk belajar di pondok Gontor VII Putra.
5) Bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Pemimpin Gontor menunjukkan bahwa mereka mewakafkan diri dan keluarga mereka untuk kelangsungan hidup Pondok Modern Gontor. Tanpa mengenal waktu, mereka akan memberikan setiap kesempatan untuk mengurus pondok.
F. NILAI-NILAI KEPEMIMPINAN PONDOK GONTOR VII PUTRA
beberapa kunci keberhasilan selama memimpin pondok, yakni:
a) Menerapkan kepemimpinan panca jiwa, yakni: (1) Jiwa Keikhlasan.Bahwa kepemimpinan dalam pendidikan pondok harus didasari niat beribadah kepada Allah SWT; (2) Jiwa Kesederhanaan. Yakni sikap menjalani hidup secara proporsional, bukan menjadi miskin ataupun berlebih-lebihan; (3) Jiwa Berdikari. Yakni semangat berdiri di atas kaki
sendiri, atau disebut juga sebagai kekuatan kemandirian; (4) Jiwa Ukhuwah Islamiyah. Semangat persaudaraan berdasarkan pada
persamaan dalam Iman.
b) Dukungan dari Ustadz, Pembina Santri, dan Santri. Para guru (ustadz) dan pembina merupakan alumni-alumni yang didatangkan dari Gontor Pusat dan telah melalui fase pendidikan dan latihan sehingga siap menjadi guru.
c) Menguatkan Karakter pondok Gontor VII yang berbeda dari lembaga pendidikan Islam lainnya, termasuk keunggulan dibanding pendidikan umum yang ada di Sulawesi Tenggara. Salah satunya adalah dengan
menanamkan dan menerapkan motto pondok, yakni: (1) Berbudi Tinggi.Merupakan landasan paling utama yang ditanamkan oleh Pondok ini
kepada seluruh santrinya dalam semua tingkatan; dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
G. INOVASI PONDOK GONTOR VII SULAWESI TENGGARA
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa inovasi (innovation) ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu
berupa hasil invention maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Kates dan Galbraith, mengemukakan bahwa spectrum inovasi mencakup dua hal,ykani: inovasi program (sustaining innovation), dan inovasi terobosan
(breakthrough innovation)16. Inovasi program mencakup: perbaikan produk,perluasan lini, dan inovasi generasi berikutnya. Sedangkan inovasi terobosan mencakup: produk baru, teknologi baru, dan bisnis baru.Inovasi-inovasi yang dilakukan Pondok Modern Gontor VII.
Pertama, kemampuan bahasa yang fokus pada penguasaan dua bahasa atau bilingual (Arab-Inggris) dan dapat digunakan secara aktif.
Orientasi santri yang bergerak mendunia (rahmatan lil alamin) turut mendorong iklim penguasaan dua bahasa tersebut.
Kedua, kewirausahaan (entrepreneurship), dimana para santri dilatih untuk terampil dalam bidang kewirausahaan seperti: peternakan,pertukangan, koperasi, pertanian, menjahit. Kewirausahaan merupakan
modal dasar yang harus dimiliki oleh setiap santri untuk tampil dalam kehidupan nyata di masyarakat, maupun ketika mereka merintis pondokpesantren ataupun lembaga pendidikan lainnya.
Ketiga, kemandirian keuangan (Chizanah), yakni penyelenggaraan
pondok yang tidak bergantung pada bantuan dari luar maupun kucuran dana dari pimpinan pusat.
Sejak peletakan batu pertama pada tahun 2002, Gontor Pusat hanya mendukung dengan mengirimkan beberapa ustadz yang
mendampingi KH. Heru Wahyudi dalam proses perintisan pondok. Dengan modal seadanya dan bantuan dari pemerintah daerah Sulawesi Tenggara, generasi pertama membuka lahan bumi perkemahan menjadi petak-petak
sawah dan ladang, dan lahan peternakan (sapi, kambing, itik dan ayam). Usaha-usaha yang dikelola secara efisien inilah yang digunakan untuk mendukung operasional pondok.
beberapa perguruan tinggi luar negeri menerima dengan terbuka alumni Gontor tersebut. Jaringan antar lembaga pendidikan pondok Gontor, antara lain:
1. Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta;
2. Universitas Negeri Malang;
3. Perguruan Darul Ulum di Universitas Kairo Mesir;
4. Universitas Punjab di Lahore Pakistan;
Kerja sama antar lembaga pendidikan tersebut masih terus
dikembangkan lebih luas sampai ke Eropa dan Amerika, karena telah juga
dibangun dengan lembaga-lembaga pemerintah daerah dalam rangka
menjajagi kemungkinan pelebaran sayap-sayap pondok maupun untuk
kepentingan kemudahan dalam gerakan pembinaan keagamaan pada
masyarakat.